Tak Lagi Dibakar, Limbah Jagung Kini Jadi Penyubur Tanah
Lombok Timur, 23/10 – Bonggol jagung yang selama ini dibakar atau dibiarkan menumpuk di ladang kini bisa diubah petani di Kawasan Transmigrasi Selaparang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi arang penyubur tanah bernama biochar.
Supriadi, Ketua Kelompok Tani Cempaka Putih, Desa Seruni Mumbul, mengaku baru paham setelah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 21 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
"Selama ini limbah tongkol jagung hanya kami bakar begitu saja di ladang atau dibiarkan menumpuk hingga mengganggu lingkungan. Melalui pelatihan dan pengenalan teknologi biochar ini, kami jadi paham limbah tersebut bisa diolah kembali menjadi pembenah tanah yang sangat bermanfaat untuk menjaga kelembaban serta kesuburan tanah pertanian kami," ujar Supriadi, Senin (19/10/2026).
Tantangan serupa dihadapi petani di Desa Akar-Akar, yang lahannya didominasi tanah kering berproduktivitas rendah. Tim dari Universitas Mataram (UNRAM) mengajak kelompok tani Dusun Lembah Pedek belajar mengubah tongkol jagung menjadi biochar lewat sosialisasi dan demonstrasi langsung. Tongkol yang tadinya dianggap sampah pun mulai dipandang sebagai sumber daya.
Hal serupa dilakukan di Gorontalo. Pada November 2024, kegiatan pengabdian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Desa Ulapato B mengajak 40 warga, termasuk ibu-ibu PKK, belajar membuat biochar. Sebanyak 87,5 persen peserta aktif bertanya saat sesi praktik, tanda warga lebih tertarik pada demonstrasi langsung.
Cara Membuat Biochar
Tim UNRAM memakai metode drum kiln yang sederhana, yaitu satu drum bekas berkapasitas 100 liter sebagai reaktor pembakaran (pirolisis).
- Siapkan drum bersih di area terbuka. Pisahkan tongkol dari kelobot dan daun, lalu jemur hingga kering.
- Nyalakan api awal dari daun kering, sabut kelapa, atau serutan kayu bersama sedikit tongkol di dasar drum.
- Setelah api stabil, masukkan sisa tongkol sedikit demi sedikit agar terbakar dari atas ke bawah dengan oksigen terbatas.
- Amati asapnya: asap putih tebal di awal akan menipis dan menjernih saat pembakaran hampir selesai.
- Ketika tongkol sudah hitam dan api mengecil, siram air secukupnya agar tidak berubah menjadi abu.
- Biarkan dingin di dalam drum, lalu hancurkan dan aplikasikan ke lahan sebagai pembenah tanah.
Biochar bukan pupuk, melainkan pembenah tanah. Strukturnya yang berpori bekerja seperti spons dengan membantu tanah menahan air, menahan hara agar tidak mudah tercuci, dan menjadi rumah bagi mikroba tanah. Karbon di dalamnya juga stabil sehingga tersimpan lama di dalam tanah. Kajian yang dirujuk tim UNRAM menyebut biochar dapat menaikkan kemampuan tanah menahan air sekitar 10 sampai 30 persen, hal yang penting bagi lahan kering.
Dikembangkan Jadi Biochar Hybrid
Tim UNRAM juga memperkenalkan biochar hybrid. Biochar dihancurkan dan diayak, lalu dicampur larutan pupuk Phonska yang mengandung nitrogen, fosfor, kalium, dan sulfur di dalam kantong plastik kedap udara. Campuran disegel dan diperam 7 sampai 14 hari di tempat teduh. Berdasarkan penelitian, hasilnya berfungsi sebagai pupuk lepas lambat sehingga hara tidak mudah hilang. Petani menyambutnya antusias karena bisa membuatnya sendiri dari bahan lokal.
Perlu dicatat, kedua kegiatan ini mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan warga, belum dampaknya pada hasil panen. Tim UNRAM sendiri menyarankan pendampingan saat biochar diaplikasikan di lahan serta analisis tanah sebelum dan sesudah pemakaian.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Jurnalis: Muchammad Fatchur Rizza.